Selasa, 12 Juli 2011

PENGALAMANKU DALAM MENJELASKAN ALQURAN DAN HADIST

A. Bagian Satu

Malam minggu (9-7-2011) istriku marah-marah karena aku merencanakan tidak ikut ke Pacitan dalam rangka menghadiri pernikahan kakak istriku pada esok hari. Bukan alasan aku tidak mau ikut, karena keluarga besar istriku akan mengadakan prosesi hindu dalam perjalanan yaitu membuang ayam di jembatan Tuntang (Salatiga). Juga pada malam minggu tersebut di rumah mertuaku akan ada acara shalawat Diba’ dan ……… aku beralasan bahwa semua ibadah Mahdhoh atau muamalah kalau tidak ada pedoman/perintah dari Allah dalam Alquran dan Sunnah Rasul dalam Hadist, maka sebaiknya ditinggalkan, artinya bahwa jangan Taqlid (ikut-ikutan tanpa ada ilmu yang jelas), Bid’ah (segala sesuatu ibadah yang baru muncul tanpa ada perintah dari Quran dan Hadist), Churofat yaitu melakukan sesuatu yang berada di luar tatanan Islam berdasar Quran dan HAdist dan Syirik (menyekutukan Allah).

Pada malam minggu aku membantu tetanggaku membuat presentasi untuk matrikulasi siswa baru, jadinya aku tidak dirumah. Saat aku selesai melakukan pekerjaan di luar, maka pulang. Sampai di rumah istriku marah-marah. Terus aku jelaskan penuh dengan kelembutan bahwa alasanku tidak mau ke rumahmu mala mini dan tidak mau ikut karena aku khawatir terdapat prosesi Hindu penuh kesyirikan dalam pelaksanaan pernikahan kakaknya Istriku. Karena sebelum keberangkatan saya bertanya kepada Ustadz Wahyul dan Ustadz Agung bahwa jika kita menjadi bagian dari yang melaksanakan kesyirikan maka kita ikut terkena dosanya. Setelah mendapat penjelasan ini, aku berfikir lagi dan penuh pertimbangan dan awalnya memutuskan tidak akan ikut. Tapi istriku tidak mau menerima hal ini, padalah aku menjelaskan berdasar Quran dan Hadist. Maka keluarlah kata-kata tidak mau balas budi, tidak mau dianggap saudara, tidak menghargai keluarganya,dll, ditambah kekerasan fisik, yang mana dia mencubit,memukul,dan menciderai badanku, juga membanting 2 hape ku sampai pecah. Menghadapi situasi ini aku tetap sabar dan dingin, dihadapi dengan kelembutan dan kasih saying. Saat saya terlepon Ustadz Wahyul, maka hapeku direbut dan dibantingnya.

Setelah agak reda, aku berbicara dengan penuh kesabaran bahwa aku bertanggung jawab atas keselamatan aqidah diriku dan keluargaku. Dengan kunci ayat Quran yang dikirimkan oleh Ustadz Wahyul dan Ustadz Agung via SMS tentang masalah yang kami hadapi, maka aku menjelaskan arti dan maksud ayat-ayat tersebut sepengatahuanku. Tanggapannya macam-macam, mulai dari aku dihasut oleh MTA, Islam Fanatik, Islam Fundamental, Islam Keras, kalo mau ceramah di masjid sana, dan lain-lain. Mungkin sedikit terpancing amarah, tanpa berfikir,aku keceplosan berbicara kalau ada prosesi Hindu maka aku berharap kita semua (rombomgan) mendapat peringatan dari Allah SWT.

B. Bagian Dua

Hmmmm, semakin lama kami diskusi dan dia sedikit terbuka hatinya. Dan aku juga memutuskan akan ikut mengantar pengantin tapi kalau ada prosesi Hindu berikut, aku akan melakukan tindakan antara lain:

1. Membuang sajen di jembatan Tuntang maka aku akan turun di Jembatan Tuntang dan Pulang ke Semarang

2. Kalau ada sajen maka aku ga mau ikut bis/ ga akan berangkat

3. Dan aku tidak akan menjadi rombongan saat temu manten adat jawa (mengnjak telur,dll), dan Cuma mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan keluarga besar besan.

Istriku menerima dan aku meminta ampun kepada Allah, bahwa aku tidak bermaksud bersyirik kepada Allah, tujuanku hanyalah ingin silaturahmi dan menguatkan ukhuwah Islamiyah. Maka tengah malam kami menuju rumah mertuaku untuk persiapan keberangkatan esoknya.

C. Bagian Tiga

Ada 3 mobil dan 1 bis yang berangkat, aku dan istri ikut bis. Seperti doa2ku sebelum berangkat, Ya Allah aku berlindung kepadaMu atas semua salahku atas keikutsertaanku dalam rombongan ini, jika berdosa maafkanlah dan jika ini memang kehendakmu tolong lancarkan perjalanan kami. Kemudian berangkatlah kami, dan bis pada bagian paling belakang. Subhanallah, Dalam perjalanan tidak kutemukan unsur syirik dan aku sedikit tenang dalam perjalanan.

Rombongan bis tertinggal jauh dan baru dengan rombongan mobil di Wonogiri. Di sana saling menunggu dan bis memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Pacitan. Ternyata kami salah jalan (karena di bis tidak ada navigator/ orang yang tahu daerahnya), harusnya kami lewat Pracimantoro namun malah lewat Giriwono. Akhirnya kami sangat jauh tertinggal dengan rombongan dan memutar jauh lewat selatan Wonogiri. Kemudian kami sampai di batas propinsi Jateng-Jatim Sisi Timur, padahal harusnya batas sisi barat. Setelah saling komunikasi dengan rombongan lain, akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan lagi menuju desanya tapi kami kesasar dan akhirnya dipandu oleh keluarga besan dan dijemput dipinggir jalan. Itupun masih jauh dari tempat acara.

Akhirnya kami sudah masuk daerah tujuan yaitu masuk ke kawasan wisata Goa Gong PAcitan. Jalannya naik turun,sangat sempit dan tengah hutan, kiri kanan hanya terlihat bukit-bukit batu. Sampai di suatu tempat, supir bus tidak berani melanjutkan perjalanan lagi karena jalannya sempit dan penumpang sangat khawatir, maklum rata-rata berusia di atas 45 tahun jadi untuk jalan yang sedikit rusak, maka reaksinya sudah beda (takut). Akhirnya penumpang bis terlantar di tengah hutan, tidak bisa mundur, harus maju. Dalam kondisi panas dan lapar, dengan segala macam opini dan solusi, akhirnya diputuskan yang ibu-ibu diangkut menggunakan angkutan desa dan bapak-bapak memakai bis. Supir bis bukan takut jalannya, namun umpama ada persilangan/ ada mobil dari arah depan, maka pasti tidak akan bisa bergerak dan kiri kanan adalah jurang. Dengan banyak hambatan tadi, maka akhirnya rombongan bis sampai ke tujuan dengan selamat. Kemudian istirahat, makan dan bersilaturahmi sejenak dan langsung pamitan pulang. Alhamdulillah, aku tidak mengikuti, tidak mengetahui dan tidak melaksanakan/ menjadi bagian dari prosesi adat Jawa yang penuh makna syirik, karena saat acara tersebut kami masih “terdampar” ditengah hutan. J

D. Hikmah Dari Pengalamanku

1. Untuk mengamalkan Al Quran dan Hadist harus dimulai dari belajar, mengaplikasikan untuk diri sendiri kemudian orang lain

2. Menghadapi orang yang tidak sepaham dengan kita, sebaiknya tetap memberikan nasehat dengan kesabaran. Jangan sekali-kali menjelek-jelekkan suatu paham, menghina dan sebagainya. Tetap jaga ukhuwah Islamiyah

3. Aku yakin kejadian kemaren yang menimpaku adalah sebagai wujud dari perlindungan Allah kepadaku dan doaku dikabulkan oleh Allah. Saat rombongan lain menganggap bahwa “keterdamparan di hutan” adalah sebuah hal yang tidak mengenakkan maka bagiku merupakan sebuah anugerah. Dari pada menemui kenikmatan di tempat acara yang penuh dengan kesyirikan.

4. Karena tuan rumah tidak menerima tamu dari Semarang dengan baik, maka dalam perjalanan pulang dan sampai di rumah, yang dibahas hanya kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan dalam acara tersebut. Dengan membandingkan apa yang telah dilakukan dan yang telah diterima. Naudzubillahimindzalik……

Minggu, 27 Maret 2011

Morning Sickness

Morning sickness atau mual-muntah pada awal kehamilan, hampir terjadi pada separuh wanita hamil di 3 bulan pertama kehamilan. Bagaimana mengatasinya --anda dapat memcoba beberapa Tips Mengatasi Mual Muntah (“Morning Sickness”) Pada Hamil Muda.

Morning sickness atau rasa mual dan muntah yang terjadi pada masa 3 bulan awal kehamilan (trimester pertama kehamilan) . Setiap wanita hamil akan memiliki derajat mual yang berbeda-beda, ada yang tidak terlalu merasakan apa-apa, tapi ada juga yang merasa mual dan bahkan ada yang merasa sangat mual dan muntah setiap saat sehingga memerlukan pengobatan (hiperemesis gravidarum). Ingat setiap wanita hamil spesial dengan karakteristik masing-masing, begitu juga anda!

Dibawah ini Beberapa tips untuk membantu anda mengatasi “morningsickness” atau mual-muntah selama awal kehamilan:

• Makan dalam jumlah sedikit tapi sering, jangan makan dalam jumlah atau porsi besar hanya akan membuat anda bertambah mual. Berusahalah makan sewaktu anda dapat makan, dengan porsi kecil tapi sering.

• Makan makanan yang tinggi karbohidrat dan protein yang dapat untuk membantu mengatasi rasa mual anda. Banyak mengkonsumsi buah dan sayuran dan makanan yang tinggi karbohidrat seperti roti, kentang, biscuit, dll

• Di pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru terbangun, cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. Bila anda merasa sangat mual ketika bangun tidur pagi siapkanlah snak atau biscuit didekat tempat tidur anda, dan anda dapat memakannya dahulu sebelum anda mencoba untuk berdiri.

• Hindari makanan yang berlemak, berminyak dan pedas yang akan memperburuk rasa mual anda.

• Minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi akibat muntah. Minumlah air putih, ataupun juice. Hindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat.

• Vitamin kehamilan kadang memperburuk rasa mual, tapi anda tetap memerlukan folat untuk kehamilan anda ini. Bila mual muntah sangat hebat, konsultasikan ke dokter anda sehingga dapat diberikan saran terbaik untuk vitamin yang akan anda konsumsi. Dan dokter anda mungkin akan memberikan obat untuk mual bila memang diperlukan.

• Vitamin B 6 efektif untuk mengurangi rasa mual pada ibu hamil. Sebaiknya Konsultasikan dahulu dengan dokter anda untuk pemakaiannya.

• Pengobatan Tradisional : Biasanya orang menggunakan jahe dalam mengurangi rasa mual pada berbagai pengobatan tradisional. Penelitian di Australia menyatakan bahwa jahe dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi rasa mual dan aman untuk ibu dan bayi. Pada beberapa wanita hamil ada yang mengkonsumsi jahe segar atau permen jahe untuk menbantu mengatasi rasa mualnya.

• Istirahat dan relax akan sangat membantu anda mengatasi rasa mual muntah. Karena bila anda stress hanya akan memperburuk rasa mual anda. . Ambilan waktu untuk anda! cobalah beristirahat yang cukup dan santai, dengarkan musik, membaca buku bayi atau majalah kesayangan anda dll. Hadapilah kehamilan anda dengan kebahagian, karena ini adalah anugerahNya.:-)

Ingat! Hubungi dokter anda bila mual-muntah menjadi sangat hebat, sehingga anda tidak dapat makan atau minum apapun juga sehingga dapat menimbulkan kekurangan cairan/dehidrasi. (Hiperemesis gravidarum).

Percayalah Morning sickness atau mual muntah pada kehamilan awal ini akan segera berlalu tanpa anda sadari dan ini akan menjadi salah satu pengalaman selama kehamilan anda---bayangkan saja tentang si kecil yang akan segera hadir membawa sejuta kebahagian.:)

Senin, 07 Februari 2011

HIKMAH FEBRIYANTI

DUKA YANG AKU ALAMI

CURAHAN HATI

1. Istriku gagal punya anak yang sempurna, diagnosa karena pembentukan kromosm tak sempurna. Tidak tahu kromosom siapa. Telah mengdahului kami sebelum sempat menghirup udara dunia.

2. Walau telah dikatakan oleh dokter spesialis bahwa penyebabnya itu, tapi menuduh aku dan bapakku yang menularkannya karena memelihara kucing, padahal faktanya ga seperti itu.

3. Ketika anakku lahir dan wafat, keluarga besarnya yang menangani penyelenggaraan jenazah tanpa meminta pendapatku bagaimana selanjutnya. Aku tidak diberi kesempatan untuk menyolatkan, menggendongnya. Karena aku disuruh mengurus surat ijin ke RT/RW wilayahku karena jenazah anakku dimakamkan di daerah neneknya

4. Ya Allah, kenapa semua tangan, mata dan jari seakan-akan menunjuk kepadaku dan keluargaku? Padalah di saat yang sama aku juga kehilangan pamanku di SUmatera?

5. Aku bukan manusia baja, jadi tangislah sebagai ungkapan sedihku. Dengan doa dan kepasrahan kepada Allah, ku serahkan semua yang terjadi padaNya. Dan Berharap agar Anak kami disana ditempatkan di tempat yang terbaik dan berada dalam Syurganya yang indah, bisa membantu kami di alam akhirat nanti, mengajaknya masuk syurga, meringankan timbangan dosa. Terkadang aku menangis tanpa sebab saat mengingat anakku,karena tidak tega dan kasihan, karena lahir tidak sempurna. MEMANG AKU TIDAK MEMBIAYAI PENANGANAN MEDIS ISTRIKU, KARENA YANG MENANGGUNGNYA ADALAH ORTUNYA, TAPI KOK JADI BEGINI???

6. Ketika penjelasan Ilmiah berdasarkan syariah tidak dihiraukan dan adat dan mitos masih dilaksnakan/ dituruti, maka bersiap-siaplah neraka menunggu

7. Aku sudah berniat untuk menegakkan Islam yang murni berdasarkan Alquran dan hadist, tanpa intervesi hal-hal yang melawan hukum Allah, tapi intervensi keluarga Istriku terlalu besar dan istriku pun belum mengikuti arahan suaminya, padahal aku bertanggung jawab terhadap istriku. Ku ingin mengajak untuk hanya percaya pada alquran dan hadist, tapi istriku masih terlalu berat untuk meninggalkan mitos dengan alasan menghormati adat. Aku sih bukan benci adat, tapi asal tidak melanggar syariat Islam/ dalam pelaksanaannya tidak ada unsur syirik, bid'ah, churofat dan taqlid, maka aku sih OK OK saja. Seperti kemaren rencana akan ada 7 bulanan, aku sudah MELARANGNYA karena tidak ada panduannya dalam Islam, tapi oleh keluara istriku tetap ngotot karena sudah adat agar selamat(?). Tapi Allah menunjukkan yang terbaik, janin bayi sudah lahir sebelum 7 bulan dan kembali ke pangkuan Allah.
8. Atas saran dari beberapa sahabat, maka aku disuruh bersabar dan tawakkal, karena memang sulit untuk merubah sesuatu yang sudah mengakar menjadi landasan islam kaffah dan murni. Semua mendukungku, kalau tidak bisa merubah keluarganya, maka mulai dari istriku. Sulit memang tapi usaha tidak akan pernah putus.
Wallohubisshowab..

Kami Mengalami Kasus Anenchepaly





Ini adalah anakku yang pertama.amanh Allah berjenis kelamin perempuan.Namun Allah mengambil kembali ke pangkuannya, karena ketidak sempurnaan bentuk. Dia telah meninggalkan kita di usia 6 bulan.

Cerita Singkat

1. Pada usia kandungan 4 bulan,istriku USG di salah satuu dokter spesialis dan belum diketahui ada gangguan pda kehamilan karena masih terlalu kecil
2. Pemeriksaan oleh bidan secara rutin 4 minggu sekali juga sehat dan vitamin tetap dikonsumsi
3. Saat USG pada usia 6 bulan (rencana untuk mengajukan cuti),oleh dokter praktek spesialis kandungan didiagnosa mengalami Anenchepaly. Tapi dokter ini belum yakin,maka dibuat surat rujukan ke dokter spesialis khusus di Rumah Sakit besar di Kota Semarang. Di sana diketahui memang ada gangguan Ananchepaly (tulang kepala tak terbentuk) karena ketidaksempurnaan kromosom, belum diketahui dari istri atau suami. Yang jelas jika lahir pasti cacat dan tidak bertahan lama. Oleh dokter rumah sakit disarankan diambil tindakan partus spontan (dipacu dengan obat), karena ini satu-satunya jalan, karena dilahirkan pada usia 9 bulanpun pasti kondisi sama. Karena kasihan pada bayi kami, maka diambil tindakan ini

1. Hari pertama masuk IGD dan diberi obat pemacu pervaginam

2. Hari kedua masih belum ada tanda-tanda, hanya kontraksi ringan

3. Hari ketiga,terjadi kontraksi hebat mulai dari malam dan paginyaa pecah ketuban. Maka lahirlah anak kami walau Allah mengambilnya kembali. Saat itu juga kami bersedih,aku, istri, keluarga besar kami ikut bersedih karena kehilangan anak dan cucu pertama

Pada kasus ini penyebabnya adalah ketidaksempurnaan kromosom bersatu dalam rahim. Bagaimana kejadiannya? Allah yang Maha Tahu....

Senin, 27 Desember 2010

Dive North Sulawesi

Can you imagine diving all year round in more than 150 dive sites with 1000 reef fish species? In North Sulawesi You can.
Bunaken National Park

Check out the links below, to stay and dive with the best dive resorts North Sulawesi has to offer.
Choose from our colourful group a place to suite your taste and budget!

Manado

Thalassa Dive Center
Dive Center Thalassa

Tasik Divers Manado
Tasik Divers Manado

Minahasa Lagoon Resort
Minahasa Lagoon

LumbaLumba Diving
Lumbalumba Diving

Eco Divers Manado
Eco Divers Manado

Celebes Divers
Celebes Divers

Lembeh Strait

Lembeh Resort
Lembeh Resort

Kungkungan Bay Resort
Kungkungan Bay Resort


Gangga Island

Gangga Island Resort
Gangga Island Resort & Spa


Bunaken/Siladen

Two Fish Divers
Two Fish Divers

Siladen Resort & Spa
Siladen Resort & Spa

Living Colours Diving
Living Colours Diving

Bunaken Divers Seabreeze Resort
Bunaken Seabreeze Resort




Green Fins Logo
All NSWA members are also GREEN FINS members.
GREEN FINS' mission statement is "to protect and conserve coral reefs by establishing and implementing environmently friendly guidelines to promote a sustainable diving tourism industry".
When NSWA members met the people from GF, we immediately decided to become part of this new and fantastic initiative. GF statement was basicly the same as part of our own charter, so it was not too difficult to join. We hope that GF will become a success story in Indonesia and are fully commited to support them wehere ever we can!
» About Green Fins
© Dive North Sulawesi
Images © Silent-Symphony.com, used with kind permission.
StatCounter - Free Web Tracker and Counter

Pregnant Teens Still Face Stigma, Isolation, Even Death

My parents told me to stay here until the baby was born,” says Diana, not her real name. “I wanted an abortion, but when I found out it was already too late. There was already a heartbeat.”

Beneath her pale yellow pajamas, Diana’s breasts, exceptionally large for her awkward 13-year-old frame, outsize her five-month-old baby bump. Her heart-shaped face has sprinklings of acne and she rarely shows her buck-toothed smile.

Raped by her neighbor last year, she was placed in a women’s shelter in West Jakarta by her family as soon as her pregnancy was discovered in April. To avoid rumors and the social stigma surrounding teenage pregnancy, Diana’s family plans to wait a year or two year before bringing the baby back home to raise it within the family.

Despite her traumatic experience, Diana can be considered one of the lucky few because she has made it to a shelter. While there has been a slight increase in sex education and campaigns to prevent teen pregnancies in recent years, there remains a dire need for reproductive health assistance for unmarried pregnant teens.

Limited Data, Limited Services

“Assistance for teen pregnancies outside of marriage is very poor because society has already declared it to be illegal and forbidden,” says Hadi Supeno, chairman of the Indonesian Commission for Child Protection (KPAI).

There are an estimated 40 million adolescents in Indonesia aged from 10 to 19, according to the Ministry of Health. Recent surveys have pointed to increased sexual activity among young people, although specific and reliable data on teenage sex and pregnancy is hard to come by.

The communication and information technology minister, Tifatul Sembiring, recently publicized a poll supposedly conducted by the KPAI in 2007 involving 4,500 teenagers in 12 cities aged 14-18. Although there are serious doubts over the veracity of the data, Tifatul said the survey showed that 62.7 percent had engaged in sexual intercourse and 21.2 percent of girls had had an abortion.

“The KPAI survey is only an indication of the behavior of our young people,” says Dr. Melania Hidayat, national program officer for reproductive health at the United Nations Population Fund (UNFPA). “Local clinics are the main source for data, and they are very unlikely to have accurate figures.”

Perhaps partly as a result of this lack of data, which could hide the extent of the problem, health services for unmarried teenagers who fall pregnant are very limited. Moreover, what few services are available are not easily accessible due to limited health coverage in rural areas, cultural barriers or lack of supporting government policy.

For instance, in 2003, the Health Ministry began the Adolescent Friendly Health Services approach in community health centers, or puskesmas. The AFHS, an affordable youth-friendly service that stresses confidentiality and sensitivity, provides sexual education information to teenagers. However, it is only available in 26 provinces at 1,611 centers — or about 20 percent of all clinics across the country — most of them in urban areas.

Nongovernmental organizations such as the Indonesian Family Planning Association (PKBI) and the Pelita Ilmu Foundation (YPI), which campaigns against HIV/AIDS, also offer counseling for pregnant teens, although it is not a free service. An hour-long session with a counselor costs about Rp 50,000 ($5.45).

Preferred Option: Abortion

Of the three logical options open to pregnant teens — keeping the child, which involves living with the stigma that comes with it; putting the baby up for adoption; or going through an abortion, which is illegal except in certain circumstances — the last one appears to be the most preferred.

According to a 2009 survey by the National Development Planning Agency (Bappenas), more than two million abortions are performed every year, with 30 percent involving teenagers. But experts say that if illegal abortions were included, that figure would more than double.

“Abortion is illegal, but what else can you do with an unwanted child?” says Dr. Firman Lubis, chairman of the Kusuma Buana Foundation (YKB), an NGO focused on health and community building.

Abortion is legal when the mother’s life is in danger and, as of last year, under the recently passed Health Law, when the mother is a rape victim, such as Diana.

Most groups counseling pregnant teens who wish to have an abortion refer them to places such as the “Raden Saleh Clinics” in Central Jakarta, which is a handful of facilities known for providing abortion services. But because the new Health Law is yet to be fully implemented, clinics such as in Raden Saleh often fall foul of law enforcement authorities.

Even at these clinics, the process of scheduling an abortion requires the pregnant teen to bring her husband as well as proof of marriage. Those who are unmarried are required to bring a copy of their family identity card and a family member.

But having a family member at hand does not provide an environment that encourages a pregnant teen to openly seek help. Shame, fear of reprimand from parents or health staff and the presence of traditional religious and conservative norms make it difficult.

As a result, many teens try their own methods for abortion.

“Their friends will tell them to eat unripe pineapples or jamu [traditional medicine],” says Ninuk Widyantoro, a psychologist and chair of the Women’s Health Foundation (YKP). “They don’t know where to go for an abortion, or else they just can’t afford it.”

Firman estimates that unsafe abortions account for about 15 percent of Indonesia’s maternal mortality rate — one of the highest in Asia, with 228 mothers dying for every 100,000 births.

Overlooked Option: Adoption

There is, of course, the adoption option, which would require pregnant teenagers to go through the full pregnancy cycle — nine difficult months that would be hard to hide from their family, friends and curious neighbors, unless she finds a shelter to stay in.

In Diana’s case, she found her shelter, which doubles as an orphanage, through word of mouth. Though the shelter has assisted more than 80 pregnant women in the last nine years, only a handful were unmarried teens, according to Yohana, an administrator at the shelter.

The reason, Yohana says, is that many teenagers are unaware such shelters exist.

“I didn’t know that there were other options,” says Cita, not her real name. “I only know of orphanages but not shelters for pregnant women who want to give up their babies. My only options were either to abort or keep the baby.”

Cita, who comes from a devoutly Muslim family, was unmarried and in her early 20s when she became pregnant. She was finishing her university thesis at the time and was planning to continue with her master’s degree overseas. After a failed attempt to abort the fetus using oral medication, she decided to keep the baby.

Another reason for the lack of awareness about the shelters is because there are not many around.

Such shelters are expensive to run, says Inne Silviane, executive director for the PKBI. “They’re expensive because from pregnancy until birth, we have to feed the mothers and provide them with good nutrition,” she says.

To support a teen through a full term of pregnancy, including checkups, daily meals and birthing, can cost a shelter up to Rp 17 million.

Social Stigma

Perhaps the core of this problem is the social stigma attached to unwanted teen pregnancies.

The AFHS program for puskesmas, for instance, is underutilized. AFHS health centers log less than three visits per day, according to a 2009 study conducted by the Peduli Perempuan (Care for Women) network that consists of NGOs dealing with gender, sexuality and reproductive health in rural areas.

At the YPI’s youth clinic in South Jakarta, a family member must accompany teens seeking counseling. “They need someone who can support them, because their condition is very unstable,” said Usep Solehudin, a YPI program manager. But he admits very few pregnant teens approach the YPI.

Counseling before and after abortion is often required by clinics. But as long as society is reluctant to approach sex education openly, let alone teen pregnancy, counseling will not help, according to the KPAI’s Hadi.

“Families are still confused, running scared and ashamed. They feel disgraced,” he says. “Pregnant teens attending schools are taken out. Those teens are going through physical changes in puberty, while also experiencing alienation from their community and schools. So it’s a big burden.”

Ida Wulan, assistant deputy for women’s health at the State Ministry for Women’s Empowerment and Child Protection, says parents are often reluctant to talk to their children about sex, leading to further isolation for teenagers. “If asked by their children, parents will just say it’s taboo,” she says.

For young people to open up about their problems, confidentiality from health service providers is essential, says Julie Rostina, a reproductive health consultant at the Peduli Perempuan network. “Confidentiality is needed so the client can talk openly and allow health service providers to make the proper diagnosis and take the right action,” she says.

Focus on Prevention

Most organizations such as the PKBI focus more on prevention than assistance. “We still help those who are already pregnant,” says the PKBI’s Inne, although making it clear that the PKBI mainly counsels married couples who experience unintended or unwanted pregnancies.

Inne says dealing with unmarried teens involves strict conditions imposed by the government, particularly requiring parents to attend the counseling sessions.

The PKBI is allowed to provide abortions by trained medical staff, but only within 10 weeks of conception and with parental consent.

“Unmarried teenagers who become pregnant in Indonesia face a very bleak situation,” says the KPAI’s Hadi. “The mind-set here is that it’s something contemptible, that the teens don’t deserve assistance. They’re outside the system.”

While the 1992 Health Law makes no references to adolescent health, the new Health Law, issued in October 2009, includes a chapter on adolescent health, stipulating the government’s obligation to ensure young people are able to obtain education, information and services on adolescent health.

But experts such as Hadi are skeptical that the law will ever be fully implemented at the operational level. “The new law is good for education and information,” but lacks service terms, he says.

The government, Hadi goes on, will not stir controversy by offending religious and conservative groups.

According to Wahyu Hartomo, assistant to the deputy director for child protection at the women’s empowerment ministry, the government aims to strengthen family values.

“We’re holding on to our religious values, so pregnant teens have to go to an illegal doctor or dukun [shaman],” he says. “The government doesn’t provide assistance.”

With or without reinforcement from the government, the reluctance to be open about sex education persists. And parents are not the only ones guilty of it. Diana, who considers her pregnancy an accident, says: “I don’t think it’s important for kids my age to know about sex, because it’s not appropriate for them.”